Benarkah Tanah Palestina Sudah Dijanjikan Allah Untuk Entitas Israel?

Ada yang mengatakan Allah sudah menjanjikan bagi Israel tanah Palestina. Alasan yang digunakan adalah surat Al Maa’idah ayat 21:

يٰقَوْمِ ادْخُلُوا الْاَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِيْ كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوْا عَلٰٓى اَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوْا خٰسِرِيْنَ

“Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Baitul Maqdis) yang Allah tentukan bagimu dan janganlah berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti engkau menjadi orang-orang yang rugi.”

QS. Al Maidah: 21

Lantas, benarkah pernyataan di atas?

Jawaban:

Surat Al Maidah ayat 21 di atas adalah khutbah nabi Musa a.s kepada kaumnya Bani Israil. Dan bagi orang-orang Yahudi, tanah suci Palestina adalah hak abadi mereka sampai hari kiamat karena sudah dijanjikan oleh Allah SWT. Artinya, kembalinya bangsa Yahudi dari eropa ke tanah suci Palestina bukanlah sebuah agresi atau penjajahan, melainkan perealisasian janji Allah SWT yang telah diputuskan untuk mereka. Narasi ini pun mereka sebar ke seluruh dunia agar seluruh umat percaya.

Palestina memang tanah suci yang diberkahi dan telah ditetapkan untuk bani Israil. Namun, siapakah bani Israil yang dijanjikan tanah suci oleh Allah SWT ? Apakah janji ini berkelanjutan dan abadi selamanya?

Shalah Abdul Fattah Al Khalidi dalam bukunya Kisah-Kisah Dalam Al Quran, yang diterbitkan oleh Gema Insani, menyebutkan bahwa sesungguhnya orang-orang yang ditetapkan Allah SWT untuk menempati tanah suci adalah orang-orang Bani Israil yang beriman kepada Nabi Musa a.s yang hijrah bersamanya dari Mesir. Mereka juga ada adalah orang-orang mukmin keturunan bani Israil yang datang setelah masa Nabi Musa a.s dan yang mengikuti serta beriman kepada nabi-nabi mereka seperti Nabi Dawud a.s dan Nabi Sulaiman a.s

Allah menetapkan orang-orang beriman dari bani Israil itu untuk menempati tanah suci Palestina, bukan karena ras, warna kulit ataupun nasab mereka, melaikan karena keber-agama-an, keimanan dan aqidah mereka. Dan perlu catat bahwa saat itu mereka merupakan entitas mukmin yang berada di tengah-tengah komunitas kafir di negeri Mesir dan tanah suci Palestina.

Namun, setelah itu orang-orang Yahudi ini berubah dan mendustakan Rasulullah. Mereka kufur terhadap diinul haqq yang dibawa Rasulullah saw. Oleh karena itu mereka dikategorikan kafir dan zalim. Otomatis,  mereka kehilangan hak mereka atas tanah suci karena Allah relah mencabutnya dari mereka. Semua ini sesuai dengan sunatullah (hokum Allah SWT di alam dan kehidupan) yang tidak berubah yaitu ketentuan Allah dan pewarisan bumi hanya untuk hamba-hamba Nya yang saleh. Ada beberapa ayat yang menetapkan sunatullah ini dan menerangkan hakikatnya yaitu:

“(Ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, ‘Sesungguhnya, Aku menjadikanmu sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.’ Dia (Ibrahim) berkata, ‘(Aku mohon juga) dari sebagian keturunanku.’ Allah berfirman,’(Doamu Aku Kabulkan, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.’” (al Baqarah :124)

Bani Israil Pengecut

Bani Israil memang dijanjikan oleh Allah tanah suci Palestina dan kemenangan di dalamnya. Akan tetapi ada syarat yang harus mereka lakukan yaitu memerangi orang-orang yang ada di dalam tanah Palestina. Namun, syarat ini yang tidak mau dilakukan oleh bani Israil karena mereka ketakutan kepada orang-orang yang ada dalam negeri Palestina. Hal ini tercatat di dalam surat al Maidah ayat 22: “Mereka berkata,’Wahai Musa, sesungguhnya di dalamnya (negeri itu) ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam. Kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar. Jika mereka keluar dari sana, kami pasti akan masuk.’”

Sebagian ahli tafsir menggambarkan orang-orang kuat yang ada di ayat tersebut adalah orang yang memiliki postur tubuh yang gagah perkasa. Sayangnya, opini ini pun berkembang di tengah-tengah masyarakat. Hal ini dikritik oleh Shalah Abdul Fattah Al Khalidi. Di dalam bukunya Kisah-Kisah Dalam Al Qur’an, beliau mengatakan bahwa para mufassir tersebut telah keluar dari gambaran yang logis menuju imajinasi fiktif yang aneh. Mereka telah menyeberang dari wahyu Allah kepada cerita-cerita khurafat dan mitos bohong. Seharusnya mereka tetap konsisten dengan inspirasi nash ayat-ayat al Quran. Di ayat tersebut tidak dijelaskan orang kuat  dan kejam tersebut seperti apa.

Ketakutan seperti itulah yang membuat bani Israil tidak mau berperang dan masuk ke tanah suci Palestina. Mereka hanya ingin duduk berpangku tangan dan menunggu keluarnya musuh secara sukarela. Ini adalah karaktek pengecut dan sayangnya mental hina dan pengecut milik Yahudi ini telah menulari sekelompok orang Arab dan orang Islam dewasa ini.

Tanah Palestina Diharamkan Untuk Bani Israil

Allah SWT berfirman,”…(jika demikian) sesungguhnya (negeri) itu terlarang untuk mereka.”

Di dalam bukunya Kisah-Kisah Dalam Al Qur’an, Shalah Abdul Fattah Al Khalidi menulis bahwa dikarenakan mereka takut untuk berjihad dan berperang, Allah SWT mengharamkan atas orang-orang Yahudi itu memasuki tanah suci Palestina dan mengharamkan mereka dari kemuliaan dalam memerdekakan dan mendiaminya.

Mengapa tanah suci yang telah Allah SWT tetapkan untuk mereka menjadi haram? Nabi Musa a.s telah menunjukkan kepada mereka jalan membebaskan tanah suci dan mendudukinya, tetapi mereka menolak satu-satunya jalan menuju negeri tersebut yaitu dengan berjihad. Ketika menolaknya, mereka diharamkan atas hasil perjuangan jihad yang dan besar itu. Jiwa, umur dan darah mereka sudah menjadi hal yang sangat berharga bagi mereka. Mereka tidak mau mengorbankannya di jalan Allah SWT.

Oleh karena itu, mereka diharamkan untuk mendapatkan kemuliaan dengan membebaskan tanah suci Palestina. Mereka diharamkan untuk mendapatkan kemuliaan menapaki jalan kejayaan, kegagahan, kebebasan dan kekuasaan.

Tulisan di atas adalah sedikit review yang diambil dari buku Kisah-Kisah Dalam Al Quran jilid 1 yang diterbitkan oleh Gema Insani. Buku ini banyak mengungkap kisah para Nabi dan kaumnya yang jarang diketahui banyak orang padahal sudah termaktub di dalam al Qur’an. Penulisnya pun, yaitu Shalah Abdul Fattah Al Khalidi, juga menjelaskan kisah israiliyat yang beredar di masyarakat. Dengan demikian, melalui buku ini kita dipandu untuk menyikapi mitos-mitos yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Semoga isi buku ini bisa menyebar luas agar umat Islam semakin mendalami agamanya dengan baik. Wallahu’alam.

Buku Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an karya Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi

Author

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like