Nasihat untuk Hati yang Lalai

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.”

(QS al-Kahf: 28)

Berkata Syaikh Shaleh as-Suhaimi hafizhahullah. Manusia ditimpa tiga musibah pada waktu siang dan malam yang terkadang tidak mereka hiraukan:

  • Umurnya yang terus berkurang setiap harinya.

Namun, berkurangnya umur tidak ia hiraukan. Ketika berkurang sedikit saja dari hartanya, ia akan terus memikirkannya. Padahal, kita berada dalam keadaan harta bisa diganti, sedangkan umur tidak ada gantinya.

  • Setiap hari manusia memakan dari rezeki Allah.

Apabila rezeki tersebut berasal dari sesuatu yang halal, akan ditanya atau diminta pertanggungjawabannya oleh Allah. Jika itu dari sesuatu yang haram, akan ada (balasan) hukum atas perbuatannya. Ia menikmati (memakan) semuanya, namun lupa untuk bersyukur dan bertaubat kepada Yang Maha Pemberi Rezeki.

  • Setiap hari ia semakin mendekat ke negeri akhirat dan semakin menjauh dari dunia. 

Sungguh celaka, ia tidak bersungguh-sungguh (dalam) meraih negeri akhirat yang kekal sebagaimana kesungguhannya dalam mengejar dunia yang fana. Dalam keadaan ia tidak mengetahui apakah tempat kembalinya adalah surga yang tinggi ataukah neraka yang sangat panas.

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami, tidak pula akhir pengetahuan kami. Janganlah Engkau jadikan neraka sebagai tempat kembali kami. Jadikanlah surga sebagai tempat tinggal kami.”

Ketiga hal yang sering kita tidak hiraukan ini ternyata dapat mengantarkan kita pada ceruk kesombongan yang membuat hati kita lalai. Apa itu hati yang lalai?

Dan, janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena kesombongan) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

(QS Luqman: 18)

Merendah (tawadhu) adalah sifat yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. sehingga dalam satu hadits, Rasulullah saw. mengingatkan, “Siapa yang merendah maka diangkat derajatnya oleh Allah, dan siapa yang menyombongkan diri maka akan dihinakan oleh Allah.”

Sifat merendah selalu mendapatkan tempat di mana pun kita berada dan sifat ini merupakan mahkota indah yang sangat menarik pada siapa pun yang ada di sekeliling kita. Sebaliknya, sifat ujub adalah sifat yang memancing kebencian orang kepada kita. Ujub adalah salah satu benih penyakit hati yang bisa mengantarkan pada sifat sombong. Kalimat ujub artinya mengagumi dirinya sendiri dengan kelebihan yang dianugerahi Allah kepadanya.

Bermacam-macam sebab yang menjadikan kita ujub akhirnya mengantarkan pada sifat sombong. Ujub adalah salah satu benih penyakit hati yang bisa mengantarkan kepada sifat sombong. Tingkat pertama, seorang merasa ujub disebabkan oleh faktor materi, mengagumi dirinya karena merasa lebih kaya dan lebih dihormati sehingga berubahlah menjadi sifat sombong.

Tingkat kedua, ujub karena faktor kecerdasan dan merasa lebih pintar, lebih tinggi pendidikan, dan wawasan lebih luas. Kemudian, berubahlah menjadi sifat sombong. Tanpa kita sadari, semakin tinggi tingkat kesombongan kita, akan semakin sulit terdeteksi dalam kehidupan kita sehingga bisa mengantarkan kita ke jurang kehinaan di hadapan Allah.

Namun, ada lagi sifat ujub yang lebih halus dan hampir sukar dideteksi, yaitu merasa paling baik, paling dermawan, merasa paling banyak ibadah sehingga ia berubah menjadi sombong. Iblis telah tunduk dan beribadah kepada Allah ribuan tahun, tetapi akhirnya iblis menunjukkan sifat angkuh dan sombongnya pada Allah karena merasa lebih baik dan lebih mulia hingga terusir dari rahmat Allah.

Mari kita biasakan mengoreksi diri kita sendiri tiap saat, dengan banyak beristighfar kepada Allah SWT., dan mengharap petunjuk dan pertolongan-Nya. 

Ya Allah, ya Rahman, kami hamba-Mu yang lemah menengadahkan tangan dengan segala kekurangan dan kesalahan. Tuntunlah kami ke jalan yang Engkau ridhai dan jadikan kami hamba-Mu yang selalu merendah untuk mengharap keridhaan dan rahmat-Mu.”

Semoga kita senantiasa dijauhkan dari hati yang lalai karena kurangnya rasa syukur atas nikmat dan rezeki yang telah Allah berikan.

Sumber: Menjadi Bijak dan Bijaksana (Jilid 4) karya Ibnu Basyar, terbitan Gema Insani

Photo by Gadiel Lazcano on Unsplash

Buku Menjadi Bijak & Bijaksana 4

Beli di Shopee: Jual Menjadi Bijak & Bijaksana 4 | Shopee Indonesia

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like